Selasa, 20 November 2018

MAKALAH

INTEGRASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM LINGKUP SEKOLAH DASAR

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar

Dosen : Rifahana Yoga J. , M.Pd


Oleh:
Andri Kresna Bayu     
(16210619324)





PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP SEBELAS APRIL SUMEDANG
2018



KATA PENGANTAR

       Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala kebesaran dan limpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Integrasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam Lingkup Sekolah Dasar”. 
    Tujuan disusunnya makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar, oleh karena itu diharapkan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam tentang Integrasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam Lingkup Sekolah Dasar. Dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini, secara khusus penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
  1. Rifahana Yoga J. , M.Pd. Selaku dosen pengampu matakuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan sehingga tugas ini dapat selesai.
  2. Orang tua kami yang senantiasa memberikan dukungan baik moral maupun materil.
  3. Seluruh pihak yang ikut membantu, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
      Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari pengetahuan dan pengalaman yang sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini lebih baik dan lebih lengkap serta bermanfaat.
                                                                                                         Sumedang,  Oktober 2018
                                                                                                                          Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah
      Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Hal ini berarti pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dirancang dan dijalankan secara profesional. Setiap kegiatan pembelajaran selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru adalah pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis, dan berkesinambungan (fasilitator). Sedangkan siswa sebagai peserta didik merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang menciptakan guru tersebut (aktor).
       Semakin berkembangnya manusia, berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Itu semua mengharuskan pendidikan menyesuaikan langkahnya jika ingin tetap relevan agar tidak tertinggal zaman. Hal itu menjadikan pendidikan menjadi kian mahal, satu kenyataan yang sering kurang disadari oleh banyak orang. Berkembangnya umat manusia mendorong makin banyak orang untuk maju dan tak mau tertinggal. Mereka semua memerlukan pendidikan yang lebih baik. Akibatnya, baik faktor kualitas maupun kuantitas pendidikan tidak dapat bisa diabaikan. Pendidikan harus diselenggarakan secara bermutu dan adil mereta bagi seluruh rakyat. Maka, pendidikan yang sudah mahal, karena harus mencapai kualitas, menjadi semakin mahal karena harus melayani pula kuantitas.
    Peranan TIK dianggap sangat penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan suatu bangsa merupakan tolak ukur kemampuan suatu bangsa. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan kita. Salah satu cara pemanfaatan TIK adalah melalui pembelajaran di kelas yang berbasis teknologi dan informasi. Guru sebagai tenaga pengajar yang profesional harus tahu dan paham akan pentingnya TIK dalam pembelajaran pada saat ini. Diharapkan dengan pemanfaatan TIK ini guru dapat meningkatkan mutu pendidikan di indonesia.
1.2  Rumusan Masalah
          Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apakah pengertian dari teknologi informasi dan komunikasi?
  2. Bagaimana peranan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar?
  3. Bagaimana penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar?
  4. Apa sajakah  dampak dari teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar?
  5.  Apa saja kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar?
  6. Bagaimana cara mengatasi kendala penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sekolah dasar?
  7. Bagaimana integrasi teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran?

1.3   Tujuan Penulisan
          Berdasar pada uraian rumusan masalah diatas penulis bertujuan:
  1. Untuk mengetahui dan memahami teknologi informasi dan komunikasi.
  2. Untuk mengetahui dan memahami peranan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
  3. Untuk mengetahui dan memahami penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
  4. Untuk mengetahui dan memahami dampak dari teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar?
  5. Untuk mengetahui dan memahami kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
  6. Untuk mengetahui dan memahami cara mengatasi kendala penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
  7. Untuk mengetahui dan memahami integrasi teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Teknologi Informasi Dan Komunikasi
      Teknologi informasi dan komunikasi yaitu suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara unntuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
     Teknologi informasi dan komunikasi adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaanya, komputer dan hubungan mesin (komputer) dan manusia, dan hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development : Report on Information Technology; H.M. Stationery Office, 1980].

2.2  Peranan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran SD
     Dalam pemanfaatan Teknologi, informasi dan komunikasi di sekolah dasar harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Pertama peran sekolah sebagai institusi yang melahirkan kebijakan dan kedua guru sebagai aktor utama di lapangan.
1.      Sekolah
Sebagai institusi sekolah mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam proses pembelanjaan anggaran di setiap tahunnya. Dalam pengimplementasian TIK suatu strategi yang mendalam dalam penggunaan TIK di sekolah. Adapun beberapa strategi yang dapat di lakukan oleh pihak sekolah adalah sebagai berikut :
a. Menyedia kebutuhan perangkat TIK, misalnya fasilitas komputer, proyektor LCD dan sambungan internet yang dapat dimanfaatkan oleh guru, karyawan, dan siswa.
b.   Kemudahan dalam mengakses sistem jaringan bagi guru, karyawan, dan siswa.
c.  Implementasi di tingkat guru dengan cara guru diharuskan mempelajari bagaimana sistem e-learning dengan memberi pelatihan terprogram dan berkesinambungan.
d.  Menyediakan tenaga khusus TIK yang mumpuni dibidang TIK untuk mengkoordinasi perangkat TIK.
e. Membuat suatu sistem jaringan terpadu berbasis TIK dalam penyelenggaraan program pendidikan misalnya pembuatan web sekolah.
f.    Menggunaan multimedia dan internet akan meningkatkan kualitas  pembelajaran
g.   Meningkatkan kinerja guru secara maksimum
2.      Guru
Guru sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan siswa mempunyai peran penting dalam pengintegrasian TIK. Guru bisa menjadi contoh langsung atau role model bagi pengunaan perangkat TIK di sekolah. Banyak sekolah yang sudah memulai untuk melengkapi ruang kelas dengan satu komputer ataupun laptop. Dengan memaksimal kan peran satu komputer di kelas, siswa akan merasakan manfaat yaitu bertambahnya sumber belajar.
Usaha yang mestinya dilakukan guru untuk penguasaan TIK melalui kursus-kursus, belajar sendiri dengan bimbingan anak kita ataupun teman, dengan kegiatan bersama seperti Kelompok Kerja Guru, atau kegiatan di forum guru yang lain. Bisa juga melalui Otodidak , meski dengan autodidak, jika disertai semangat untuk bisa maka akan lebih cepat menguasai. Tujuan utamanya adalah meningkatkan professional guru dalam menguasai Ilmu Teknologi.


2.3  Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di Sekolah Dasar
     Teknologi pendidikan  merupakan suatu disiplin terapan artinya ia berkembang  karena adanya  kebutuhan  di lapangan  yaitu kebutuhan  untuk belajar, belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu  ada  produk yang sengaja dibuat dan ada yang ditemukan  dan dimanfaatkan.
     Berkembangnya  penerapan teknologi pendidikan  boleh  dikatakan  berasal dari  Amerika Serikat. Pada awal perkembangannya  sekitar ratusan tahun  yang lalu teknologi pendidikan   dikenal  sebagai cara mengajar  dengan menggunakan  alat peraga  hasil buatan  sendiri  oleh guru di sekolah. Tiga puluh tahun kemudian  (sekitar tahun  1930 )   penggunaan  alat peraga  itu berkembang  dengan diproduksinya  secara massal  media  belajar untuk digunakan di sekolah secara meluas.
   Di Indonesia  sendiri penerapan  teknologi pembelajaran  tidak jauh berbeda  dengan perkembangan  seperti halnya di Amerika Serikat  , hanya terpaut waktu  yang cukup lama . Perkembangan itu boleh dikatakan  baru dikenal sekitar awal tahun  1950 , dengan didirikannya  Balai Kursus Tertulis Pendidikan  Guru (BKTPG)  dan Balai Alat Peraga  Pendidikan  (BAPP) di Bandung. BKTPG sekarang menjadi Pusat Pengembangan   Penataran Guru Tertulis (  P3G Tertulis ) Ber tanggung jawab  untuk menyelenggarakan  penataran kualifikasi  guru dengan bahan pelajaran dengan berpegangan  pada konsep belajar mandiri . BAPP pada awal tahun 1970 diintegrasikan dengan pusat pengembangan   penataran guru bidang studi .
      Aplikasi  teknologi pendidikan    yang paling mendasar  adalah  menyediakan  dan melaksanakan pemecahan masalah dalam  memberikan  kemungkina  belajar.  Pemecahan ini  berbentuk sumber belajar , sumber ini baik yang sengaja  dirancang maupun yang dipilih dan kemudian  dimanfaatkan. Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan-keputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
     Penerapan teknologi pembelajaran  pada sistem pendidikan,  teknik dan alat bantu untuk memudahkan  dalam  proses belajar mengajar  sehingga peserta didik diharapkan mampu memahami materi pendidikan  dengan bantuan teknologi  pembelajaran. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping cara-cara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi.
Secara umum aplikasi teknologi dalam pendidikan akan mampu :
  1.      Menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
  2.      Membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
  3.   Dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun sebagai produk sampingan.
  4.      Menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
  5.      Menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
  6.      Menambah daya tarik untuk belajar.
  7.      Membantu mengubah sikap pemakai.
  8.      Mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan proses.
  9.  Mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan system tradisional. (Miarso, 1981)
Jika semula teknologi pendidikan (dalam arti yang sangat terbatas) dipandang hanya berperan pada taraf pelaksanaan kurikulum di kelas, konsepsi baru menghendaki teknologi pendidikan sebagai masukan (input) bahkan sejak tahap perencanaan kurikulum. Dengan demikian sudah sejak perencanaan kurikulum harus pula dikaji dan ditentukan bentuk teknologi pendidikan yang akan diterapkan. Pemilihan teknologi dalam pendidikan akan membuka kemungkinan untuk lahirnya berbagai alternatif bentuk kelembagaan baru yang menyediakan fasilitas belajar, disamping dapat melayani segala bentuk lembaga pendidikan yang telah ada Misalnya kemungkinan bagi suatu bentuk sekolah terbuka yang fasilitas dan tata belajarnya berbeda sekali dengan sekolah konvensional, tetapi dengan hasil (output) yang sama. Serangkaian kriteria pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, antara lain: harus dijaga kesesuaiannya (kompatibilitas)dengan sarana dan teknologi yang sudah ada, dapat menstimulasikan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu memacu usaha peningkatan mutu pendidikan itu sendiri.
Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.
Menurut Miarso adalah beberapa pedoman umum dalam aplikasi teknologi pendidikan dan implementasinya:
   1. Memadukan berbabagi macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa dan lain-lain.
  2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serampak, dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya
   3.      Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
   4. Tumbuhnya daya lipat atau efek sinergi, dimana penggabungan pendekatan dan atau unsure mempunyai nilai-nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah (Miarso: 2007, 78).
Aplikasi atau penerapan teknologi pembelajan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran mempersyaratkan minimal tersedianya hal-hal berikut:
1.      Dukungan teknologi atau infrastruktur,
2.      Penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan content,
3.      Dukungan kebijakan (policy) dari pemerintah dan top leader,
4.  Kesiapan masyarakat pengguna atau user. Sementara itu pemecahan masalah belajar secara emperik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi, dan prosedur (Purwanto, dkk., 2005:17-18).
Salah satu aplikasi dari teknologi pendidikan di SD adalah perkembangan teknologi komunikasi. Perkembangan teknologi komunikasi pendidikan adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Semua sumber belajar, baik manusia maupun nonmanusia, dirancang dan diupayakan agar membantu proses belajar para siswa. Teknologi komunikasi pendidikan juga memberikan alternatif terhadap rancangan program pengajaran dan strategi pelaksanaannya.  
Perkembangan teknologi komunikasi Pengembangan Sekolah Dasar kecil untuk menunjang penuntasan pemerataan belajar di daerah terpencil Ciri-ciri SD Kecil Mempunyai murid yang relatif sedikit dibandingkan dengan SD Konvensional, umumnya jumlahnya hanya dibawah 100 orang murid, Mempunyai 3 orang guru, termasuk Kepala Sekolah, Mempunyai 3 ruang kelas, Adanya perangkapan dan penggabungan kelas, Untuk kelas-kelas tinggi, yaitu kelas IV, V dan VI beberapa bidang studi ditunjang dengan modul, Menggunakan sistem tutor, Dalam hal bidang studi agama, kesenian, keterampilan, olah raga, melibatkan tenaga terampil dari masyarakat yang bersedia membantu secara suka rela, Kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum SD yang berlaku.
Penerapan Teknologi Pendidikan yang lain adalah dengan penerapan pendekatan CTL di SD. Kontekstual Teaching And Learning atau CTL jika diterapkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi maka siswa atau mahasiswa akan terbiasa mengembangkan kemampuan pribadinya sedangkan guru hanya sebagau fasilitator saja. Dengan berkembangnya kemampuan siswa sesuai dengan kondisi masing-masing maka, mutu pendidikan pada tempat atau sekolah yang bersangkutan akan mengalami peningkatan aktivitas, dengan meningkatnya aktivitas maka kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa juga akan mengalami peningkatan.
Dengan meningkatnya ketiga ranah tersebut maka mutu pendidikan akan mengalami peningkatan. Jika disetiap tempat atau sekolah mengalami peningkatan mutu maka pendidikan secara nasional juga mengalami peningkatan.Internet juga dapat dijadikan sebagai teknologi pendidikan yaitu sebagai media pembelajaran dalam mencari ilmu serta membuka wawasan yang lebih luas khususnya untuk anak SD. Penggunaan internet untuk anak SD di kalangan Kebumen khususnya masih dipandu oleh guru. Jadi, siswa dapat dibebaskan untuk mencari materi atau sumber ilmu dari internet, serta guru juga dapat melakukan metode yang berbeda dengan bantuan teknologi internet, misalnya mengajak siswa SD untuk bermain edukatif di komputer.
Menurut Elangoan dan Soekartawi dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (2007, 201), manfaat dan petunjuk yang diberikan dengan penggunaan internet sebagai media pembelajaran adalah:
  1.      Tersedianya fasilitas e-moderating dimana guru dan siswa dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi secara mudah dengan fasilitas internet dimana saja, kapan saja tanpa di batasi oleh jarak, tempat dan waktu
  2.      Guru dan siswa menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya dapat saling menilai berapa jauh bahan ajar dipelajari
  3.      Siswa dapat mereviuw kapan saja dan dimana saja mengingat bahan belajar yang tersimpan dikomputer
  4.      Bagi siswa yang memerlukan tambahan informasi dapat melakukan akses di Internet
  5.      Baik guru dan siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat dilakukan dengan banyak orang sehingga menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas
  6.      Berubahnya peran siswa dari kebiasan pasif menjadi aktif
  7.      Relatif lebih efisien, jika mereka tinggal jauh dari tempat perguruan tinggi atau sekolah yang bersangkutan atau bagi mereka yang sibuk bekerja, bertugas di kapal, luar negeri dan lain-lain.
Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam lingkup dalam meliputi: Model-model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, pengaturan ruang kelas yang nyaman, dll. Teknologi pendidikan juga meliputi teknologi cetak, dan teknologi elektronik.
Salah satu dari aplikasi tersebut adalah Media Pembelajaran. media pembelajaran dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : media grafis, media 3 dimensi, dan media audio visual. Yang ketiganya akan mempermudah dalam proses belajar mengajar untuk anak SD.  Media grafis, misalnya dalam penggunaan peta, penggunaan gambar-gambar yang akan member semangat kepada anak SD untuk lebih belajar dengan giat dan memudahkan untuk mengingatkan ilmu tersebut.
Selanjutnya media 3 dimensi, misalnya : rotatoon, kubus struktur, benda nyata, dll. Penerapan media 3 dimensi dalam pembelajaran yaitu: misalnya dengan benda  nyata, siswa siswi SD dapat menggunakan buku, pensil, penggaris, dll. Selanjutnya adalah media audio visual, siswa dapat diajak untuk melihat video tentang pelajaran yang diajarkan. Dengan begitu, seorang guru akan lebih mudah untuk member pelajaran tersebut, karna siswa juga akan lebih tertarik dengan media tersebut dibandingkan dengan ceramah dari guru.
Penerapan atau aplikasi teknologi pendidikan yang selanjutnya mungkin ini adalah pendapat dari penulis yaitu tentang kenyamanan dan keindahan kelas. Misalnya perubahan dalam meja kursi untuk belajar, baik dalam letter V, atau melingkar. Dengan adanya perubahan tersebut, maka siswa akan lebih senang dan mungkin akan lebih jelas dalam memperhatikan penjelasan dari guru. Namun, perubahan tempat duduk juga didasari atas metode pembelajaran dan pembelajaran tertentu.
Sebenarnya penerapan teknologi pembelajaran juga bisa dengan menerapkan pendidikan jarak jauh. Yaitu dengan bantuan internet, yang sering juga disebut dengan e-learning. Akan tetapi dalam SD belum bisa diterapkan e-learning tersebut.
2.4  Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi di sekolah dasar
            Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi menimbulkan dampak positif maupun negatif. Dampak Positif misalnya perkembangan sistem TIK untuk membahas sosial isu dan gender isu; kurikulum konsiderasi, grafik, simulasi, design , kemampuan intelegensi, dan pelajaran bahasa. Komputer semula sekadar untuk membantu memecahkan hitung-hitungan rumit kini bisa dipakai untuk olahkata, olahdata, olahgambar, dan pangkalan data berbagai bidang kehidupan. Termasuk untuk keperluan pendidikan dan hiburan.
            Apalagi dengan munculnya teknologi multimedia (media ganda) interaktif yang sanggup menyajikan tulisan, suara, gambar, animasi, dan video secara sekaligus maupun bergantian. Anak-anak makin akrab dengan dunia perangkat canggih. Kemajuan teknologi komputer membuat aktivitas menjadi serba cepat serta menjadikan dunia seperti tanpa batas. Berbagai jenis informasi dapat diakses dengan cepat dan akurat.
            Dampak negatifnya misalnya hadirnya komputer di rumah menjadikan minat belajar menurun, apalagi dengan adanya game online sehingga menimbulkan anak kecanduan bermain game. Komputer juga dapat menjadikan pendidik dan peserta didik sangat mekanis , kurang memiliki ketrampilan sosial. Komputer cenderung mengisolasi secara sosial karena seseorang hanya berinteraksi  dengan mesin.
            Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain:
1.      Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik
2.      Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks
3.      Mempercepat proses yang lama
4.      Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi
5.      Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan.

2.5  Kendala Pemanfaatan TIK dalam Pendidikan Dasar
     Perkembangan TIK memang memiliki banyak manfaat, khususnya pendidikan dasar. Oleh sebab itu, banyak orang yang ingin segera memanfaatkannya. Namun, tidak bisa dipungkiri pemanfaatan TIK di dalam dunia pendidikan memiliki beberapa kendala, di antaranya:
1.      Kurangnya pengadaan infrastruktur TIK.
Hal ini disebabkan sulit dijangkaunya beberapa daerah tertentu di Indonesia, sehingga penyebarannya tidak merata. Masih banyak sekolah yang sulit dijangkau oleh alat transportasi. Untuk mencapai daerah yang dituju, hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan dengan berjalan kaki, tidak memungkinkan untuk membawa berbagai peralatan multimedia.
Belum meratanya infrastuktur yang mendukung penerapan TIK di bidang pendidikan merupakan permasalahan awal yang harus segera diselesaikan oleh pihak yang berwenang, karena tanpa adanya infrastruktur yang mendukung maka penerapan TIK di bidang pendidikan hanya akan menjadi impian semata. Infrastruktur merupakan komponen yang sangat penting yang berfungsi sebagai modal awal dan utama dalam penerapan TIK di bidang pendidikan.
Pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa hanya daerah tertentu saja yang mendapatkan akses TIK. Hal ini dikarenakan masih banyak daerah yang bahkan untuk memilki akses  telepon saja tidak ada, apalagi untuk akses terhadap Internet. Padahal sesungguhnya banyak sekali potensi sumber daya manusia unggul yang dimiliki oleh daerah tersebut. Jika hal ini terus berlangsung seperti ini maka dikhawatirkan bahwa potensi sumber daya manusia yang dimiliki daerah tersebut akan terbuang dengan percuma dan tidak dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya. Walaupun sudah ada sarana dan prasarana, tetapi masih sangat minim baik dari segi jumlah maupun segi mutu peralatan tersebut.
2.      Ketidaksiapaan sumber daya manusia  untuk memanfaatkan TIK dalam proses pembelajaran.
Ketidaksiapan ini dikarenakan pola kebiasaan pembelajaran yang masih belum menganggap penting peranan TIK dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka cenderung sudah merasa puas akan materi yang telah diberikan oleh pengajar secara langsung, sehingga menyebabkan mereka tidak mau / malas untuk mencari informasi tambahan yang ada di Internet walaupun sarana dan infrastruktur sudah mendukung dalam penerapan TIK. Terkadang kendala ini jauh lebih susah untuk dipecahkan daripada tidak adanya infrastruktur yang mendukung TIK, hal ini karena biasanya lebih susah untuk mengubah pola tingkah laku/ kebiasaan dari seseorang. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari setiap individu pembelajar untuk memanfaatkan dan menerapkan TIK dalam metode pembelajarannya.
3.      Hambatan – hambatan penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar ada tiga, yaitu:
a. Kurangnya kepercayaan diri guru menggunakan TIK dalam melaksanakan proses belajar mengaiar. Guru takut gagal mengajar melalui penggunaan TIK yang saat ini sangat disarankan.
b.  Kurangnya kompetensi guru, yang dimaksud disini adalah kurangnya kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK kedalam pedagogis praktek, yaitu tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan komputer dan tidak antusias tentang perubahan dan integrasi dengan belajar yang menggunakan computer dalam kelas mereka.
c.  Sikap guru dan resistensi yang melekat terhadap perubahan. Sikap dan resistensi guru untuk mengubah tentang penggunaan strategi baru yaitu dengan integrasi TIK dalam proses belajar mengajar. Hal ini dimaksudkan dengan sikap guru bahwa penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar tidak memiliki manfaat atau keuntungan yang jelas).

2.6  Cara Mengatasi Kendala Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Sekolah  Dasar
            Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang sekaligus berfungsi sebagai prasyarat keberhasilan penerapan TIK dalam dunia pendidikan / pembelajaran. Langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut:
  1.      Pembelajar dan Pengajar harus memiliki akses terhadap teknologi digital dan Internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan. Ini berarti sekolah harus memiliki sarana prasarana yang memadai yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi, seperti tersedianya komputer/laptop, jaringan komputer, internet, laboratorium komputer, peralatan multimedia seperti CD, DVD, Web Camera dan lain-lain.
  2.      Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi pembelajar dan pengajar. Materi-materi itu dapat berupa materi pembelajaran interaktif yang berbantuan komputer, seperti CD, DVD Pembelajaran Interaktif.
  3.      Pengajar harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu pembelajar agar mencapai standar akademik. Pengembangan professional seorang guru harus ada waktu yang cukup, dan perlu dukungan teknis yang harus diberikan kepada guru.
  4.      Harus tersedia anggaran atau dana yang cukup untuk untuk mengadakan, mengembangkan dan merawat sarana prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut.
  5.      Adanya kemauan dari semua pihak, dalam hal ini guru dan peserta didik untuk menerapkan pembelajaran dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi tersebut.

2.7  Integrasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran
            Secara pragmatis, konsep E-learning telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan model pembelajaran multisumber sekarang ini. Namun, upaya untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran masih menemui kendala yang begitu besar. Kendala yang dimaksud terkait dengan tidak seiringnya kemajuan di bidang teknologi informasi di satu  sisi dengan kemajuan di bidang teori-teori pendidikan di sisi lain. Akibatnya, sering kedua disiplin ilmu ini berjalan secara terpisah. Artinya, ke- inginan para teknolog informasi untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran terhambat dengan tidak digunakannya teori-teori pembelajaran dalam teknologi informasi. Sebaliknya, kemampuan untuk mengembangkan teori-teori pembelajaran yang dilakukan dalam pendidik- an sering dihambat oleh terbatasnya pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi  
    Selanjutnya, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran belum banyak mengintegrasikan Surat Elektronik (E-mail), Kamera digital, MP3 Players, Web Sites, Wikipedia, Podcasting, YouTube, Blogging, dan sistem teleconference yang memanfaatkan software online seperti Skype. E- mail hanya digunakan sebagai media komunikasi untuk mensharing informasi dan menanyakan kabar. Begitu pula ruang chatting (komunikasi sinkronous secara elektronik melalui Internet) belum didesain khusus untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara formal. Juga, pemanfaatan video pembelajaran dan berbagai jenis video lainnya yang tersimpan dalam YouTube yang berfungsi untuk mensharing video di mana pengguna dapat mengupload, melihat, dan membagi video klip, belum terintegrasi dengan baik dalam pembelajaran.
            Pemanfaatan youtube baru sebatas mengupload untuk sekedar menyimpan hasil rancangan video agar pihak lain yang berada di mana pun di dunia dapat mengakses. Sayangnya, penggunaan YouTube ini di Indonesia belum dirancang dan diintegrasikan untuk kebutuhan pembelajaran yang sewaktu-waktu dapat  diakses. Hampir semua rancangan video baru merupakan wadah hiburan semata. Walaupun teknologi informasi telah diintegrasi pada pembelajaran pada beberapa sekolah, berbagai aspek seperti agama, umur, kultur, latar belakang sosio-ekonomi, interes, pengalaman, level pendidikan menjadi hal yang sangat diperhitungan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir ketidakberterimaan penggunakan teknologi karena alasan yang sifatnya ideologis dan dogmatis.
            Di samping itu, pada saat pengembangan sistem pembelajaran, se- ring tidak memperhatikan tentang desain dan pengembangan sistem, interactivity, active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif. Padahal proses pengembangan pembelajaran untuk pendidikan jarak jauh harus melalui tahap perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi.
            Dalam mendesain pendidikan jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan, bukan hanya tujuan, kebutuhan, dan karakteristik dosen dan mahasiswa atau guru dan siswa, melainkan juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari in- struktur, spesialis pembuat isi, dan mahasiswa selama dalam proses berjalan. Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi antara dosen dan mahasiswa, antara mahasiswa dan lingkungan pendidikan, dan antara mahasiswa. Partisipasi aktif peserta pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhu- bungan dengan materi yang akan dipelajari.
    Pembelajaran lewat televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan dalam proses pembelajaran. Namun, jangan sampai terjadi distorsi karena adanya hiburan. Harus ada penyeleksian antara informasi yang tidak berguna dengan yang berkualitas, menentukan mana  yang  layak dan tidak, mengidentifikasi penyimpangan, membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti bagaimana teknologi dapat memberikan informasi berkualitas.
           Desain instruksional dimulai dengan mengerti harapan pemakai, dan mengenal mereka sebagai individual yang mempunyai pandangan berbeda dengan perancang sistem. Dengan memahami keingingan pemakai maka dapat dibangun suatu komunikasi yang efektif. Untuk dapat mengintegrasikan semua komponen teknologi informa- si perlu dijabarkan beberapa teori dan model integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Salah satu teori yang dapat digunakan dalam integrasi teknologi ke dalam pembelajaran adalah teori difusi inovasi. Teori ini bukan saja memberikan kerangka dasar dalam mengadopsi dan meng- integrasi, melainkan juga beberapa strategi dan skenario yang dapat mem- berikan kemudahan dalam melakukan integrasi.
            Dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, para integrator atau adopter perlu malakukan lima fase dalam integrasi, yakni (1) menentukan keuntungan relatif, (2) menentukan tujuan dan penilaian, (3) mendesain strategi integrasi, (4) mempersiapkan lingkungan pembelajaran, (5) mengevaluasi dan merevisi strategi integrasi.
     Dalam menentukan keuntungan relatif, perlu menjawab pertanyaan seperti ‘‘mengapa menggunakan metode berdasarkan teknologi?” Pertanyaan ini harus dijawab dengan menganalisis pertama, tingkat keberterimaan (compatibility) baik dilihat dari perspektif nilai-nilai budaya dan keyakinan maupun dari sudut pandang yang menggambarkan kebaikan bagi guru, murid, dan seluruh komponen yang terkait. Juga terkait dengan kesesuaian antara teknologi yang diintegrasikan dengan kondisi real lingkungan di mana diterapkan teknologi. Kedua, tingkat kesulitan (complexity) yang menggambarkan kemudahan dalam menggunakannya untuk kebutuhan pembelajaran. Ketiga, ketercobaan (triability) dalam penerapaannya yang merujuk pada apakah sudah dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan sebelum mengambil keputusan final. Keempat, keterhandalan dalam pengamatan yang merujuk pada tingkat keberterimaan pada pihak lain yang sudah pernah melaksanakan uji coba.
            Integrasi teknologi juga perlu menentukan tujuan dan penilaian yang dapat dikembangkan dengan menjabarkan pertanyaan bagaimana mengetahui bahwa pemelajar sudah melakukan aktivitas belajar? Untuk merancang tujuan dan menentukan penilaian dapat menggunakan daftar check list kinerja, check list kriteria, dan rubrik. Dengan menggunakan instrumen tujuan dan evaluasi tersebut, maka akan diketahui kinerja yang bagaimana yang diinginkan kepada pemelajar untuk dikuasai, cara yang paling sesuai untuk mengukur kemampuan dan kinerja pemelajar, instrumen yang akan digunakan apakah harus dibuat atau hanya dikembangkan saja, dan menentukan metode apa yang mungkin bisa digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan.
            Untuk memudahkan dalam mendesain strategi integrasi teknologi ke dalam pembelajaran, perlu menjawab pertanyaan strategi dan Kegiatan belajar yang bagaimana yang mungkin bisa berjalan dengan baik? Dalam menjawab pertanyaan ini perlu dikaji berbagai pendekatan dalam pem- belajaran, pendekatan yang digunakan dalam implementasi kurikulum, pengelompokkan, dan sekuensi. Hal ini akan mengarahkan pada bentuk aktivitas yang digunakan seperti metode langsung, konstruktivis, atau penggabungan dari kedua metode itu. Mungkin juga apakah dalam melaksanakan kegiatan tersebut dilakukan secara individu, berpasangpasangan, kelompok kecil, kelompok besar, atau seluruh kelas. Lebih  lanjut, apakah perlu dipersiapkan strategi dan model penilaian tersendiri untuk menangani pemelajar minoritas dalam suku, atau berkebutuhanm khusus. Hal-hal seperti ini perlu dipikirkan ketika mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran.
            Dalam mempersiapkan lingkungan yang digunakan dalam meng- integrasi teknologi, perlu mempertimbangkan pertanyaan berikut: adakah tempat-tempat yang memiliki kondisi tertentu untuk  menerapkan teknologi yang diintegrasikan? Tentu saja, hal ini berkaitan langsung dengan jumlah komputer, software, hardware, peralatan dan media atau teknologi lain yang mendukung proses pembelajaran. Jangka waktu yang harus dipersiapkan dan disusun dalam bentuk schedule. Di samping itu, aspek privacy dan safety yang mendukung keamanan dalam belajar. Terkadang, unsur-unsur yang mengandung kerahasiaan dan keamanan luput dari pengawasan. Akibatnya, kebebasan anak-anak di bawah umur sering dengan mudah mengakses berbagai situs yang seharusnya untuk ukuran umur mereka belum dapat mengaksesnya.
            Terakhir, dalam melakukan evaluasi dan revisi perlu memperhatikan pertanyaan apa yang telah dilakukan dengan baik? apa yang harus diperbaiki? Pertanyaan ini dapat dijawab dan dikaji lebih jauh dengan menganalisis problem pembelajaran yang harus diselesaikan, jenis aktivitas yang menggambarkan berbagai strategi yang mungkin sangat cocok untuk menyelesaikan persoalan, perbaikan kegiatan, instrumen untuk mengum- pulkan data, hasil yang diperoleh dalam menggunakan teknologi, cara alternatif yang lebih baik, sesuatu yang harus diperbaiki untuk mem- peroleh hasil yang lebih baik. Semua hal ini harus dikaji lebih mendalam untuk memberikan gambaran yang jelas tentang hasil yang diperoleh dan digunakan melakukan revisi, perbaikan, atau menggantinya dengan berbagai alternatif strategi lainnya.
            Hampir sama dengan kelima fase ini, model integrasi yang digambarkan melalui akronim ASSURE menawarkan enam langkah; (1) menganalisis pebelajar, (2) menyatakan tujuan (umum dan khusus), (3) menyeleksi metode, media, dan materi, (4) memanfaatkan media dan materi, (5) meminta partisipasi pembelajar, dan (6) mengevaluasi dan merevisi. Keenam langkah ini pada dasarnya memiliki strategi yang sama dengan lima fase yang terdapat dalam teori difusi inovasi, namun berbeda dalam objek dan tujuan digunakannya. Teori difusi inovasi dapat digunakan  untuk melalukan integrasi, adopsi, dan membuat yang baru. Sedangkan teori ASSURE hanya digunakan dalam mengembangkan dan mengadopsi teknologi yang sudah tersedia.
            Walaupun kedua teori difusi inovasi dan teori ASSURE telah diperkenalkan dalam upaya untuk melakukan integrasi teknologi ke dalam pembelajaran, namun bukan berarti segala yang terkait dengan peng- gunaan teknologi informasi dalam pembelajaran, dengan sendirinya dapat teratasi. Terdapat beberapa kendala fundamental yang dapat menghambat lajunya program integrasi teknologi informasi ke dalam pembelajaran. Kendala tersebut terkait dengan; (1) kurangnya materi pembelajaran yang berbahasa Indonesia, (2) kurangnya kemampuan bahasa Inggris, (3) akses Internet belum merata, (4) belum siapnya guru, dosen, dan staf pengajar,(5) membutuhkan waktu yang panjang untuk belajar mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran, (6) kesulitan perijinan (jika membangun sekolah atau universitas yang serba digital dan cyber).
            Ketersediaan materi pembelajaran dalam Bahasa Indonesia memang masih sangat terbatas. Inisiatif beberapa sekolah dan perguruan tinggi  yang telah memanfaatkan dan mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran di Indonesia lebih banyak menggunakan materi dari luar negeri. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan ada sekolah dan universitas di Indonesia hanya menjadi agen atau menjalankan outlet bagi perguruan tinggi di luar negeri. Masih perlu inisiatif-inisiatif untuk membuat materi pembelajaran dalam bentuk digital yang berbahasa Indonesia untuk mengurangi ketergantungan positif dari negara-negara lain di dunia.
            Kemampuan berbahasa Inggris bagi para adopter dan integrator belum memadai. Karena materi dalam bahasa Indonesia belum banyak tersedia, maka harus menggunakan materi dalam bahasa Inggris seperti halnya penggunaan buku teks berbahasa Inggris yang saat ini dilakukan pada hampir seluruh universitas di Indonesia. Ironisnya, keinginan untuk menggunakan buku-buku teks yang berbahasa Inggris begitu besar, tetapi tidak disertai dengan kemampuan memahami bahasa Inggris yang mema- dai yang pada gilirannya menyebabkan pemerolehan ilmu menjadi tidak terserap dengan baik, hanya diperoleh sisi permukaannya saja sehingga terkesan sangat dangkal dan parsial. Untuk itu pemahaman bahasa Inggris merupakan salah satu kebutuhan yang harus dikuasai oleh mahasiswa.
            Aksesibilitas internet belum merata dan masih relatif mahal di beberapa tempat. Meskipun kecenderungan akses Internet mulai menyebar dengan harga yang relatif murah, namun pada kenyataannya masih banyak tempat di Indonesia yang belum memiliki saluran telepon. Bahkan beberapa tempat masih belum miliki jaringan listrik yang memadai. Sedangkan, yang sudah memiliki jaringan listrik masih dihambat dengan kecilnya persediaan pasokan sehingga pemadaman listrik secara bergilir pun tidak dapat dihindari. Kemampuan Guru, dosen, atau staf pengajar untuk mengintegrasi dan memanfaatkan teknologi informasi ke dalam pembelajaran belum me- rata. Bahkan tidak sedikit tenaga kependidikan yang belum tersentuh oleh teknologi. Keadaan ini menyebabkan proses penyampaian materi pembelajaran menjadi terhambat. Semoga keterbatasan kemampuan bagi para pelaku pendidikan dapat berangsur-angsur terselesaikan.
            Namun masalah ini tidak dapat berkurang begitu saja tanpa ada usaha untuk meminimali- sirnya. Untuk itu perlu ada upaya untuk meningkatkan kemampuan guru, dosen, atau staf pengajar.Ketersediaan waktu bagi para guru, dosen, atau staf pengajar harus diarahkan pada penguasaan teknologi karena proses belajar teknologi membutuhkan waktu yang cukup memadai. Kesibukan untuk menangani beberapa mata pelajaran/mata kuliah dan kesibukan membantu perguruan tinggi dan sekolah lain atau mungkin berbagai kesibukan lain di luar tugas utama seharusnya dapat diminimalisir guna dapat mengagendakan dan membuat time schedule untuk memperdalam pengetahuan dalam menggunakan teknologi dan bahkan cara mengintegrasikan ke dalam pembelajaran.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
     Dalam pemanfaatan Teknologi, informasi dan komunikasi di sekolah dasar harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.
  Namun, tidak bisa dipungkiri pemanfaatan TIK di dalam dunia pendidikan memiliki beberapa kendala, di antaranya: kurangnya pengadaan infrastruktur TIK, Ketidaksiapaan sumber daya manusia  untuk memanfaatkan TIK dalam proses pembelajaran, Hambatan – hambatan penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar.Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang sekaligus berfungsi sebagai prasyarat keberhasilan penerapan TIK dalam dunia pendidikan / pembelajaran.Dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, para integrator atau adopter perlu malakukan lima fase dalam integrasi, yakni (1) menentukan keuntungan relatif, (2) menentukan tujuan dan penilaian, (3) mendesain strategi integrasi, (4) mempersiapkan lingkungan pembelajaran, (5) mengevaluasi dan merevisi strategi integrasi.

3.2 Saran
    Dari keseluruhan hasil pembahasan dan simpulan, makalah yang kami buat belum sempurna sesuai yang diharapkan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak atau pembaca demi perbaikan di masamendatang.





DAFTAR PUSTAKA

Frans, R. (2017). Penerapan TIK di Sekolah Dasar dan Kendalanya.[Online]. Tersedia:http://reyfranss.blogspot.com/2017/07/penerapan-t-i-k-di-sekolah-dasar-dan.html [24 Oktober 2018].
Isjoni. 2005. Mendayagunakan Teknologi Pengajaran. Pekanbaru: Penerbit          Unri Press.
Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:           Penerbit Prenada Media.
Purwanto., dkk. (2005).  Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di                 Indonesia. Jakarta: Pustekkom-Depdiknas.
Suparman, M., Atwi & Zuhairi., dan Aminudin. 2004. Pendidikan Jarak Jauh Teori dan Praktek. Jakarta: Pusat Penerbitan universitas Terbuka.
Wiguna, M. (2012). Aplikasi Teknologi Pendidikan Pada Usia Anak Sekolah Dasar.[Online]. Tersedia:http://meilyaniw.blogspot.com/2012/09/aplikasi-teknologi-pendidikan-pada-usia_26.html [24 Oktober 2018].
Yaumi, M. (2011). Integrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran. Jurnal LENTERA PENDIDIKAN, VOL. 14, NO. 1, JUNI 2011: 88-102.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seni Budaya I

Tugas Seni Budaya Apresiasi Wayang Ajen di IPP Sumedang