INTEGRASI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM LINGKUP SEKOLAH DASAR
MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar Teknologi
Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar
Dosen : Rifahana Yoga J. , M.Pd
PRODI PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
STKIP SEBELAS APRIL
SUMEDANG
2018
2018
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT
atas segala kebesaran dan limpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Integrasi
Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam Lingkup Sekolah Dasar”.
Tujuan disusunnya makalah ini yaitu
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar Teknologi Informasi dan
Komunikasi di Sekolah Dasar, oleh karena itu diharapkan dapat menjadi rujukan
bagi mahasiswa untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam tentang Integrasi
Teknologi Informasi Dan Komunikasi dalam Lingkup Sekolah Dasar. Dalam penyusunan dan penyelesaian
makalah ini, secara khusus penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
- Rifahana Yoga J. , M.Pd. Selaku dosen pengampu matakuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah Dasar yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan sehingga tugas ini dapat selesai.
- Orang tua kami yang senantiasa memberikan dukungan baik moral maupun materil.
- Seluruh pihak yang ikut membantu, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis menyadari pengetahuan dan pengalaman yang
sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
dari berbagai pihak agar makalah ini lebih baik dan lebih lengkap serta
bermanfaat.
Sumedang, Oktober 2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan
proses pendidikan di sekolah. Hal ini berarti pencapaian tujuan pendidikan
banyak bergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dirancang dan dijalankan
secara profesional. Setiap kegiatan pembelajaran selalu melibatkan dua pelaku
aktif, yaitu guru dan siswa. Guru adalah pencipta kondisi belajar siswa yang
didesain secara sengaja, sistematis, dan berkesinambungan (fasilitator).
Sedangkan siswa sebagai peserta didik merupakan pihak yang menikmati kondisi
belajar yang menciptakan guru tersebut (aktor).
Semakin
berkembangnya manusia, berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi di segala
bidang. Itu semua mengharuskan pendidikan menyesuaikan langkahnya jika ingin
tetap relevan agar tidak tertinggal zaman. Hal itu menjadikan pendidikan
menjadi kian mahal, satu kenyataan yang sering kurang disadari oleh banyak
orang. Berkembangnya umat manusia mendorong makin banyak orang untuk maju dan
tak mau tertinggal. Mereka semua memerlukan pendidikan yang lebih baik.
Akibatnya, baik faktor kualitas maupun kuantitas pendidikan tidak dapat bisa
diabaikan. Pendidikan harus diselenggarakan secara bermutu dan adil mereta bagi
seluruh rakyat. Maka, pendidikan yang sudah mahal, karena harus mencapai
kualitas, menjadi semakin mahal karena harus melayani pula kuantitas.
Peranan
TIK dianggap sangat penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan suatu bangsa
merupakan tolak ukur kemampuan suatu bangsa. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK
diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan kita. Salah satu cara
pemanfaatan TIK adalah melalui pembelajaran di kelas yang berbasis teknologi
dan informasi. Guru sebagai tenaga pengajar yang profesional harus tahu dan
paham akan pentingnya TIK dalam pembelajaran pada saat ini. Diharapkan dengan
pemanfaatan TIK ini guru dapat meningkatkan mutu pendidikan di indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas penulis
merumuskan masalah sebagai berikut:
- Apakah pengertian dari teknologi
informasi dan komunikasi?
- Bagaimana peranan teknologi informasi dan
komunikasi di sekolah dasar?
- Bagaimana penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah
dasar?
- Apa sajakah dampak dari teknologi informasi dan
komunikasi di sekolah dasar?
- Apa
saja kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi dan
komunikasi di sekolah dasar?
- Bagaimana cara mengatasi
kendala penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan
sekolah dasar?
- Bagaimana integrasi
teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasar pada uraian rumusan masalah diatas penulis bertujuan:
- Untuk mengetahui dan memahami teknologi
informasi dan komunikasi.
- Untuk mengetahui dan memahami peranan
teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
- Untuk mengetahui dan memahami penerapan
teknologi informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
- Untuk
mengetahui dan memahami dampak dari teknologi informasi dan komunikasi di
sekolah dasar?
- Untuk
mengetahui dan memahami kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi
informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
- Untuk
mengetahui dan memahami cara mengatasi kendala penerapan teknologi
informasi dan komunikasi di sekolah dasar.
- Untuk
mengetahui dan memahami integrasi teknologi informasi dan
komunikasi dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Teknologi informasi
dan komunikasi yaitu suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,
termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam
berbagai cara unntuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi
yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi,
bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk
pengambilan keputusan.
Teknologi informasi
dan komunikasi adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan
teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi
serta penggunaanya, komputer dan hubungan mesin (komputer) dan manusia, dan hal
yang berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council
for applied Research and Development : Report on Information Technology; H.M.
Stationery Office, 1980].
2.2 Peranan Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Dalam Pembelajaran SD
Dalam pemanfaatan Teknologi,
informasi dan komunikasi di sekolah dasar harus melihat beberapa peran yang
dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Pertama peran sekolah
sebagai institusi yang melahirkan kebijakan dan kedua guru sebagai aktor utama
di lapangan.
1.
Sekolah
Sebagai
institusi sekolah mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam proses
pembelanjaan anggaran di setiap tahunnya. Dalam pengimplementasian TIK suatu
strategi yang mendalam dalam penggunaan TIK di sekolah. Adapun beberapa
strategi yang dapat di lakukan oleh pihak sekolah adalah sebagai berikut :
a. Menyedia
kebutuhan perangkat TIK, misalnya fasilitas komputer, proyektor LCD dan
sambungan internet yang dapat dimanfaatkan oleh guru, karyawan, dan siswa.
b. Kemudahan
dalam mengakses sistem jaringan bagi guru, karyawan, dan siswa.
c. Implementasi
di tingkat guru dengan cara guru diharuskan mempelajari bagaimana sistem
e-learning dengan memberi pelatihan terprogram dan berkesinambungan.
d. Menyediakan
tenaga khusus TIK yang mumpuni dibidang TIK untuk mengkoordinasi perangkat TIK.
e. Membuat
suatu sistem jaringan terpadu berbasis TIK dalam penyelenggaraan program
pendidikan misalnya pembuatan web sekolah.
f. Menggunaan
multimedia dan internet akan meningkatkan kualitas pembelajaran
g. Meningkatkan
kinerja guru secara maksimum
2.
Guru
Guru sebagai
pihak yang bersentuhan langsung dengan siswa mempunyai peran penting dalam
pengintegrasian TIK. Guru bisa menjadi contoh langsung atau role model bagi
pengunaan perangkat TIK di sekolah. Banyak sekolah yang sudah memulai untuk
melengkapi ruang kelas dengan satu komputer ataupun laptop. Dengan memaksimal
kan peran satu komputer di kelas, siswa akan merasakan manfaat yaitu
bertambahnya sumber belajar.
Usaha yang
mestinya dilakukan guru untuk penguasaan TIK melalui kursus-kursus, belajar sendiri
dengan bimbingan anak kita ataupun teman, dengan kegiatan bersama seperti
Kelompok Kerja Guru, atau kegiatan di forum guru yang lain. Bisa juga melalui
Otodidak , meski dengan autodidak, jika disertai semangat untuk bisa maka akan
lebih cepat menguasai. Tujuan utamanya adalah meningkatkan professional guru
dalam menguasai Ilmu Teknologi.
2.3 Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di Sekolah Dasar
Teknologi pendidikan merupakan
suatu disiplin terapan artinya ia berkembang karena adanya
kebutuhan di lapangan yaitu kebutuhan untuk belajar, belajar
lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan
sebagainya. Untuk itu ada produk yang sengaja dibuat dan ada yang
ditemukan dan dimanfaatkan.
Berkembangnya penerapan teknologi pendidikan boleh
dikatakan berasal dari Amerika Serikat. Pada awal
perkembangannya sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi
pendidikan dikenal sebagai cara mengajar dengan
menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru
di sekolah. Tiga puluh tahun kemudian (sekitar tahun 1930
) penggunaan alat peraga itu berkembang dengan
diproduksinya secara massal media belajar untuk digunakan di
sekolah secara meluas.
Di Indonesia
sendiri penerapan teknologi pembelajaran tidak jauh
berbeda dengan perkembangan seperti halnya di Amerika Serikat
, hanya terpaut waktu yang cukup lama . Perkembangan itu boleh
dikatakan baru dikenal sekitar awal tahun 1950 , dengan
didirikannya Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) dan
Balai Alat Peraga Pendidikan (BAPP) di Bandung. BKTPG sekarang
menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis ( P3G
Tertulis ) Ber tanggung jawab untuk menyelenggarakan penataran
kualifikasi guru dengan bahan pelajaran dengan berpegangan pada
konsep belajar mandiri . BAPP pada awal tahun 1970 diintegrasikan dengan pusat
pengembangan penataran guru bidang studi .
Aplikasi teknologi pendidikan yang paling mendasar adalah menyediakan dan melaksanakan pemecahan masalah dalam memberikan kemungkina belajar. Pemecahan ini berbentuk sumber belajar , sumber ini baik yang sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan. Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan-keputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
Penerapan teknologi pembelajaran pada sistem pendidikan, teknik dan alat bantu untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik diharapkan mampu memahami materi pendidikan dengan bantuan teknologi pembelajaran. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping cara-cara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi.
Aplikasi teknologi pendidikan yang paling mendasar adalah menyediakan dan melaksanakan pemecahan masalah dalam memberikan kemungkina belajar. Pemecahan ini berbentuk sumber belajar , sumber ini baik yang sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan. Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan-keputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
Penerapan teknologi pembelajaran pada sistem pendidikan, teknik dan alat bantu untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik diharapkan mampu memahami materi pendidikan dengan bantuan teknologi pembelajaran. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping cara-cara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi.
Secara umum aplikasi
teknologi dalam pendidikan akan mampu :
1.
Menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan
cepat.
2.
Membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu)
menggantikan tugas guru.
3. Dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik
secara langsung maupun sebagai produk sampingan.
4.
Menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang
partisipasi masyarakat.
5.
Menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan
belajar.
6.
Menambah daya tarik untuk belajar.
7.
Membantu mengubah sikap pemakai.
8.
Mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan
proses.
9. Mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila
dibandingkan dengan system tradisional. (Miarso, 1981)
Jika semula teknologi
pendidikan (dalam arti yang sangat terbatas) dipandang hanya berperan pada
taraf pelaksanaan kurikulum di kelas, konsepsi baru menghendaki teknologi
pendidikan sebagai masukan (input) bahkan sejak tahap perencanaan kurikulum.
Dengan demikian sudah sejak perencanaan kurikulum harus pula dikaji dan
ditentukan bentuk teknologi pendidikan yang akan diterapkan. Pemilihan
teknologi dalam pendidikan akan membuka kemungkinan untuk lahirnya berbagai
alternatif bentuk kelembagaan baru yang menyediakan fasilitas belajar,
disamping dapat melayani segala bentuk lembaga pendidikan yang telah ada
Misalnya kemungkinan bagi suatu bentuk sekolah terbuka yang fasilitas dan tata
belajarnya berbeda sekali dengan sekolah konvensional, tetapi dengan hasil
(output) yang sama. Serangkaian kriteria pemanfaatan teknologi dalam
pendidikan, antara lain: harus dijaga kesesuaiannya (kompatibilitas)dengan
sarana dan teknologi yang sudah ada, dapat menstimulasikan perkembangan
teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu memacu usaha peningkatan mutu
pendidikan itu sendiri.
Dengan demikian,
adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi
perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber
belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah
penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.
Menurut Miarso adalah
beberapa pedoman umum dalam aplikasi teknologi pendidikan dan implementasinya:
1. Memadukan berbabagi macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi,
manajemen, rekayasa dan lain-lain.
2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serampak,
dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya
3. Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan
masalah belajar.
4. Tumbuhnya daya lipat atau efek sinergi, dimana penggabungan pendekatan dan
atau unsure mempunyai nilai-nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula
pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada
memecahkan masalah secara terpisah (Miarso: 2007, 78).
Aplikasi atau
penerapan teknologi pembelajan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan
pembelajaran mempersyaratkan minimal tersedianya hal-hal berikut:
1.
Dukungan teknologi atau infrastruktur,
2.
Penguasaan pengetahuan dan keterampilan
dalam mengembangkan content,
3.
Dukungan kebijakan (policy) dari
pemerintah dan top leader,
4. Kesiapan masyarakat pengguna atau user.
Sementara itu pemecahan masalah belajar secara emperik dapat dilakukan dengan
berbagai cara, strategi, dan prosedur (Purwanto, dkk., 2005:17-18).
Salah satu aplikasi
dari teknologi pendidikan di SD adalah perkembangan teknologi
komunikasi. Perkembangan teknologi komunikasi pendidikan adalah salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Semua sumber
belajar, baik manusia maupun nonmanusia, dirancang dan diupayakan agar membantu
proses belajar para siswa. Teknologi komunikasi pendidikan juga memberikan
alternatif terhadap rancangan program pengajaran dan strategi pelaksanaannya.
Perkembangan teknologi
komunikasi Pengembangan Sekolah Dasar kecil untuk menunjang penuntasan
pemerataan belajar di daerah terpencil Ciri-ciri SD Kecil Mempunyai murid yang
relatif sedikit dibandingkan dengan SD Konvensional, umumnya jumlahnya hanya
dibawah 100 orang murid, Mempunyai 3 orang guru, termasuk Kepala Sekolah,
Mempunyai 3 ruang kelas, Adanya perangkapan dan penggabungan kelas, Untuk
kelas-kelas tinggi, yaitu kelas IV, V dan VI beberapa bidang studi ditunjang dengan
modul, Menggunakan sistem tutor, Dalam hal bidang studi agama, kesenian,
keterampilan, olah raga, melibatkan tenaga terampil dari masyarakat yang
bersedia membantu secara suka rela, Kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum SD
yang berlaku.
Penerapan Teknologi
Pendidikan yang lain adalah dengan penerapan pendekatan CTL di
SD. Kontekstual Teaching And Learning atau CTL jika
diterapkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai
Perguruan Tinggi maka siswa atau mahasiswa akan terbiasa mengembangkan
kemampuan pribadinya sedangkan guru hanya sebagau fasilitator saja. Dengan
berkembangnya kemampuan siswa sesuai dengan kondisi masing-masing maka, mutu
pendidikan pada tempat atau sekolah yang bersangkutan akan mengalami
peningkatan aktivitas, dengan meningkatnya aktivitas maka kemampuan kognitif,
psikomotorik dan afektif siswa juga akan mengalami peningkatan.
Dengan meningkatnya
ketiga ranah tersebut maka mutu pendidikan akan mengalami peningkatan. Jika
disetiap tempat atau sekolah mengalami peningkatan mutu maka pendidikan secara
nasional juga mengalami peningkatan.Internet juga dapat dijadikan sebagai teknologi pendidikan yaitu sebagai media
pembelajaran dalam mencari ilmu serta membuka wawasan yang lebih luas khususnya
untuk anak SD. Penggunaan internet untuk anak SD di kalangan Kebumen khususnya
masih dipandu oleh guru. Jadi, siswa dapat dibebaskan untuk mencari materi atau
sumber ilmu dari internet, serta guru juga dapat melakukan metode yang berbeda
dengan bantuan teknologi internet, misalnya mengajak siswa SD untuk bermain
edukatif di komputer.
Menurut Elangoan dan
Soekartawi dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (2007, 201), manfaat dan petunjuk
yang diberikan dengan penggunaan internet sebagai media pembelajaran adalah:
1.
Tersedianya fasilitas e-moderating dimana guru dan
siswa dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi secara mudah dengan fasilitas
internet dimana saja, kapan saja tanpa di batasi oleh jarak, tempat dan waktu
2.
Guru dan siswa menggunakan bahan ajar atau petunjuk
belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya
dapat saling menilai berapa jauh bahan ajar dipelajari
3.
Siswa dapat mereviuw kapan saja dan dimana saja
mengingat bahan belajar yang tersimpan dikomputer
4.
Bagi siswa yang memerlukan tambahan informasi dapat
melakukan akses di Internet
5.
Baik guru dan siswa dapat melakukan diskusi melalui
internet yang dapat dilakukan dengan banyak orang sehingga menambah wawasan dan
pengetahuan yang lebih luas
6.
Berubahnya peran siswa dari kebiasan pasif menjadi
aktif
7.
Relatif lebih efisien, jika mereka tinggal jauh dari
tempat perguruan tinggi atau sekolah yang bersangkutan atau bagi mereka yang
sibuk bekerja, bertugas di kapal, luar negeri dan lain-lain.
Aplikasi Teknologi
Pendidikan dalam lingkup dalam meliputi: Model-model pembelajaran,
metode pembelajaran, media pembelajaran, pengaturan ruang kelas yang nyaman,
dll. Teknologi pendidikan juga meliputi teknologi cetak, dan teknologi
elektronik.
Salah satu dari aplikasi tersebut adalah Media Pembelajaran.
media pembelajaran dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : media grafis, media 3
dimensi, dan media audio visual. Yang ketiganya akan mempermudah dalam proses
belajar mengajar untuk anak SD. Media grafis, misalnya dalam penggunaan
peta, penggunaan gambar-gambar yang akan member semangat kepada anak SD untuk
lebih belajar dengan giat dan memudahkan untuk mengingatkan ilmu tersebut.
Selanjutnya media 3
dimensi, misalnya : rotatoon, kubus struktur, benda nyata, dll. Penerapan media
3 dimensi dalam pembelajaran yaitu: misalnya dengan benda nyata, siswa
siswi SD dapat menggunakan buku, pensil, penggaris, dll. Selanjutnya adalah
media audio visual, siswa dapat diajak untuk melihat video tentang pelajaran
yang diajarkan. Dengan begitu, seorang guru akan lebih mudah untuk member pelajaran
tersebut, karna siswa juga akan lebih tertarik dengan media tersebut
dibandingkan dengan ceramah dari guru.
Penerapan atau
aplikasi teknologi pendidikan yang selanjutnya mungkin ini adalah pendapat dari
penulis yaitu tentang kenyamanan dan keindahan kelas. Misalnya perubahan dalam
meja kursi untuk belajar, baik dalam letter V, atau melingkar. Dengan adanya
perubahan tersebut, maka siswa akan lebih senang dan mungkin akan lebih jelas
dalam memperhatikan penjelasan dari guru. Namun, perubahan tempat duduk juga
didasari atas metode pembelajaran dan pembelajaran tertentu.
Sebenarnya penerapan
teknologi pembelajaran juga bisa dengan menerapkan pendidikan jarak jauh. Yaitu
dengan bantuan internet, yang sering juga disebut dengan e-learning. Akan
tetapi dalam SD belum bisa diterapkan e-learning tersebut.
2.4 Dampak Teknologi Informasi dan
Komunikasi di sekolah dasar
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi menimbulkan dampak positif maupun negatif. Dampak Positif misalnya
perkembangan sistem TIK untuk membahas sosial isu dan gender isu; kurikulum
konsiderasi, grafik, simulasi, design , kemampuan intelegensi, dan pelajaran
bahasa. Komputer semula sekadar untuk membantu memecahkan hitung-hitungan rumit
kini bisa dipakai untuk olahkata, olahdata, olahgambar, dan pangkalan data
berbagai bidang kehidupan. Termasuk untuk keperluan pendidikan dan hiburan.
Apalagi dengan munculnya teknologi
multimedia (media ganda) interaktif yang sanggup menyajikan tulisan, suara,
gambar, animasi, dan video secara sekaligus maupun bergantian. Anak-anak makin
akrab dengan dunia perangkat canggih. Kemajuan teknologi komputer membuat
aktivitas menjadi serba cepat serta menjadikan dunia seperti tanpa batas.
Berbagai jenis informasi dapat diakses dengan cepat dan akurat.
Dampak negatifnya misalnya hadirnya
komputer di rumah menjadikan minat belajar menurun, apalagi dengan adanya game
online sehingga menimbulkan anak kecanduan bermain game. Komputer juga dapat
menjadikan pendidik dan peserta didik sangat mekanis , kurang memiliki ketrampilan
sosial. Komputer cenderung mengisolasi secara sosial karena seseorang hanya
berinteraksi dengan mesin.
Aplikasi dan potensi TIK dalam
pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa
manfaat antara lain:
1.
Pembelajaran menjadi lebih interaktif,
simulatif, dan menarik
2.
Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit /
kompleks
3.
Mempercepat proses yang lama
4.
Menghadirkan peristiwa yang jarang
terjadi
5.
Menunjukkan peristiwa yang berbahaya
atau di luar jangkauan.
2.5 Kendala Pemanfaatan TIK dalam
Pendidikan Dasar
Perkembangan
TIK memang memiliki banyak manfaat, khususnya pendidikan dasar. Oleh sebab itu,
banyak orang yang ingin segera memanfaatkannya. Namun, tidak bisa dipungkiri
pemanfaatan TIK di dalam dunia pendidikan memiliki beberapa kendala, di
antaranya:
1.
Kurangnya pengadaan infrastruktur TIK.
Hal ini
disebabkan sulit dijangkaunya beberapa daerah tertentu di Indonesia, sehingga
penyebarannya tidak merata. Masih banyak sekolah yang sulit dijangkau oleh alat
transportasi. Untuk mencapai daerah yang dituju, hanya dapat ditempuh dengan
berjalan kaki. Sedangkan dengan berjalan kaki, tidak memungkinkan untuk membawa
berbagai peralatan multimedia.
Belum meratanya
infrastuktur yang mendukung penerapan TIK di bidang pendidikan merupakan
permasalahan awal yang harus segera diselesaikan oleh pihak yang berwenang,
karena tanpa adanya infrastruktur yang mendukung maka penerapan TIK di bidang
pendidikan hanya akan menjadi impian semata. Infrastruktur merupakan komponen
yang sangat penting yang berfungsi sebagai modal awal dan utama dalam penerapan
TIK di bidang pendidikan.
Pada saat ini,
terdapat kecenderungan bahwa hanya daerah tertentu saja yang mendapatkan akses
TIK. Hal ini dikarenakan masih banyak daerah yang bahkan untuk memilki
akses telepon saja tidak ada, apalagi
untuk akses terhadap Internet. Padahal sesungguhnya banyak sekali potensi
sumber daya manusia unggul yang dimiliki oleh daerah tersebut. Jika hal ini
terus berlangsung seperti ini maka dikhawatirkan bahwa potensi sumber daya
manusia yang dimiliki daerah tersebut akan terbuang dengan percuma dan tidak
dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya. Walaupun sudah
ada sarana dan prasarana, tetapi masih sangat minim baik dari segi jumlah
maupun segi mutu peralatan tersebut.
2.
Ketidaksiapaan sumber daya manusia untuk memanfaatkan TIK dalam proses
pembelajaran.
Ketidaksiapan
ini dikarenakan pola kebiasaan pembelajaran yang masih belum menganggap penting
peranan TIK dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka cenderung sudah
merasa puas akan materi yang telah diberikan oleh pengajar secara langsung,
sehingga menyebabkan mereka tidak mau / malas untuk mencari informasi tambahan
yang ada di Internet walaupun sarana dan infrastruktur sudah mendukung dalam
penerapan TIK. Terkadang kendala ini jauh lebih susah untuk dipecahkan daripada
tidak adanya infrastruktur yang mendukung TIK, hal ini karena biasanya lebih
susah untuk mengubah pola tingkah laku/ kebiasaan dari seseorang. Oleh karena
itu, perlu adanya kesadaran dari setiap individu pembelajar untuk memanfaatkan
dan menerapkan TIK dalam metode pembelajarannya.
3.
Hambatan – hambatan penggunaan TIK dalam
proses belajar mengajar ada tiga, yaitu:
a. Kurangnya
kepercayaan diri guru menggunakan TIK dalam melaksanakan proses belajar mengaiar.
Guru takut gagal mengajar melalui penggunaan TIK yang saat ini sangat
disarankan.
b. Kurangnya
kompetensi guru, yang dimaksud disini adalah kurangnya kompetensi guru dalam
mengintegrasikan TIK kedalam pedagogis praktek, yaitu tidak memiliki
pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan komputer dan tidak antusias
tentang perubahan dan integrasi dengan belajar yang menggunakan computer dalam
kelas mereka.
c. Sikap
guru dan resistensi yang melekat terhadap perubahan. Sikap dan resistensi guru
untuk mengubah tentang penggunaan strategi baru yaitu dengan integrasi TIK
dalam proses belajar mengajar. Hal ini dimaksudkan dengan sikap guru bahwa
penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar tidak memiliki manfaat atau
keuntungan yang jelas).
2.6 Cara Mengatasi Kendala Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Sekolah Dasar
Untuk mengatasi kendala-kendala
tersebut diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang sekaligus berfungsi
sebagai prasyarat keberhasilan penerapan TIK dalam dunia pendidikan / pembelajaran.
Langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut:
1.
Pembelajar dan Pengajar harus memiliki
akses terhadap teknologi digital dan Internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga
pendidikan. Ini berarti sekolah harus memiliki sarana prasarana yang memadai
yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi, seperti tersedianya
komputer/laptop, jaringan komputer, internet, laboratorium komputer, peralatan
multimedia seperti CD, DVD, Web Camera dan lain-lain.
2.
Harus tersedia materi yang berkualitas,
bermakna, dan dukungan kultural bagi pembelajar dan pengajar. Materi-materi itu
dapat berupa materi pembelajaran interaktif yang berbantuan komputer, seperti
CD, DVD Pembelajaran Interaktif.
3.
Pengajar harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk
membantu pembelajar agar mencapai standar akademik. Pengembangan professional
seorang guru harus ada waktu yang cukup, dan perlu dukungan teknis yang harus
diberikan kepada guru.
4.
Harus tersedia anggaran atau dana yang
cukup untuk untuk mengadakan, mengembangkan dan merawat sarana prasarana
Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut.
5.
Adanya kemauan dari semua pihak, dalam
hal ini guru dan peserta didik untuk menerapkan pembelajaran dengan dukungan
teknologi komunikasi dan informasi tersebut.
2.7 Integrasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran
Secara
pragmatis, konsep E-learning telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan
model pembelajaran multisumber sekarang ini. Namun, upaya untuk
mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran masih menemui kendala yang
begitu besar. Kendala yang dimaksud terkait dengan tidak seiringnya kemajuan di
bidang teknologi informasi di satu sisi
dengan kemajuan di bidang teori-teori pendidikan di sisi lain. Akibatnya,
sering kedua disiplin ilmu ini berjalan secara terpisah. Artinya, ke- inginan
para teknolog informasi untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran
terhambat dengan tidak digunakannya teori-teori pembelajaran dalam teknologi
informasi. Sebaliknya, kemampuan untuk mengembangkan teori-teori pembelajaran yang
dilakukan dalam pendidik- an sering dihambat oleh terbatasnya pengetahuan dan
keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi
Selanjutnya,
pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran belum banyak
mengintegrasikan Surat Elektronik (E-mail), Kamera digital, MP3 Players, Web
Sites, Wikipedia, Podcasting, YouTube, Blogging, dan sistem teleconference yang
memanfaatkan software online seperti Skype. E- mail hanya digunakan sebagai
media komunikasi untuk mensharing informasi dan menanyakan kabar. Begitu pula
ruang chatting (komunikasi sinkronous secara elektronik melalui Internet) belum
didesain khusus untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara formal. Juga,
pemanfaatan video pembelajaran dan berbagai jenis video lainnya yang tersimpan
dalam YouTube yang berfungsi untuk mensharing video di mana pengguna dapat
mengupload, melihat, dan membagi video klip, belum terintegrasi dengan baik
dalam pembelajaran.
Pemanfaatan
youtube baru sebatas mengupload untuk sekedar menyimpan hasil rancangan video agar
pihak lain yang berada di mana pun di dunia dapat mengakses. Sayangnya,
penggunaan YouTube ini di Indonesia belum dirancang dan diintegrasikan untuk
kebutuhan pembelajaran yang sewaktu-waktu dapat
diakses. Hampir semua rancangan video baru merupakan wadah hiburan
semata. Walaupun teknologi informasi telah diintegrasi pada pembelajaran pada
beberapa sekolah, berbagai aspek seperti agama, umur, kultur, latar belakang
sosio-ekonomi, interes, pengalaman, level pendidikan menjadi hal yang sangat
diperhitungan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir ketidakberterimaan
penggunakan teknologi karena alasan yang sifatnya ideologis dan dogmatis.
Di
samping itu, pada saat pengembangan sistem pembelajaran, se- ring tidak
memperhatikan tentang desain dan pengembangan sistem, interactivity, active
learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif. Padahal proses
pengembangan pembelajaran untuk pendidikan jarak jauh harus melalui tahap
perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi.
Dalam
mendesain pendidikan jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan, bukan hanya
tujuan, kebutuhan, dan karakteristik dosen dan mahasiswa atau guru dan siswa,
melainkan juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. Revisi
dilakukan berdasarkan masukan dari in- struktur, spesialis pembuat isi, dan
mahasiswa selama dalam proses berjalan. Keberhasilan
sistem pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi
antara dosen dan mahasiswa, antara mahasiswa dan lingkungan pendidikan, dan
antara mahasiswa. Partisipasi aktif peserta pendidikan jarak jauh mempengaruhi
cara bagaimana mereka berhu- bungan dengan materi yang akan dipelajari.
Pembelajaran
lewat televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan dalam proses
pembelajaran. Namun, jangan sampai terjadi distorsi karena adanya hiburan.
Harus ada penyeleksian antara informasi yang tidak berguna dengan yang
berkualitas, menentukan mana yang layak dan tidak, mengidentifikasi penyimpangan,
membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti bagaimana teknologi dapat
memberikan informasi berkualitas.
Desain instruksional dimulai dengan
mengerti harapan pemakai, dan mengenal mereka sebagai individual yang mempunyai
pandangan berbeda dengan perancang sistem. Dengan memahami keingingan pemakai
maka dapat dibangun suatu komunikasi yang efektif. Untuk
dapat mengintegrasikan semua komponen teknologi informa- si perlu dijabarkan
beberapa teori dan model integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Salah satu
teori yang dapat digunakan dalam integrasi teknologi ke dalam pembelajaran
adalah teori difusi inovasi. Teori ini bukan saja memberikan kerangka dasar
dalam mengadopsi dan meng- integrasi, melainkan juga beberapa strategi dan
skenario yang dapat mem- berikan kemudahan dalam melakukan integrasi.
Dalam
mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, para integrator atau adopter
perlu malakukan lima fase dalam integrasi, yakni (1) menentukan keuntungan
relatif, (2) menentukan tujuan dan penilaian, (3) mendesain strategi integrasi,
(4) mempersiapkan lingkungan pembelajaran, (5) mengevaluasi dan merevisi
strategi integrasi.
Dalam
menentukan keuntungan relatif, perlu menjawab pertanyaan seperti ‘‘mengapa
menggunakan metode berdasarkan teknologi?” Pertanyaan ini harus dijawab dengan
menganalisis pertama, tingkat keberterimaan (compatibility) baik dilihat dari
perspektif nilai-nilai budaya dan keyakinan maupun dari sudut pandang yang
menggambarkan kebaikan bagi guru, murid, dan seluruh komponen yang terkait.
Juga terkait dengan kesesuaian antara teknologi yang diintegrasikan dengan
kondisi real lingkungan di mana diterapkan teknologi. Kedua, tingkat kesulitan
(complexity) yang menggambarkan kemudahan dalam menggunakannya untuk kebutuhan
pembelajaran. Ketiga, ketercobaan (triability) dalam penerapaannya yang merujuk
pada apakah sudah dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan sebelum mengambil
keputusan final. Keempat, keterhandalan dalam pengamatan yang merujuk pada
tingkat keberterimaan pada pihak lain yang sudah pernah melaksanakan uji coba.
Integrasi
teknologi juga perlu menentukan tujuan dan penilaian yang dapat dikembangkan
dengan menjabarkan pertanyaan bagaimana mengetahui bahwa pemelajar sudah
melakukan aktivitas belajar? Untuk merancang tujuan dan menentukan penilaian
dapat menggunakan daftar check list kinerja, check list kriteria, dan rubrik.
Dengan menggunakan instrumen tujuan dan evaluasi tersebut, maka akan diketahui
kinerja yang bagaimana yang diinginkan kepada pemelajar untuk dikuasai, cara
yang paling sesuai untuk mengukur kemampuan dan kinerja pemelajar, instrumen
yang akan digunakan apakah harus dibuat atau hanya dikembangkan saja, dan
menentukan metode apa yang mungkin bisa digunakan untuk mengukur dan menilai
keberhasilan.
Untuk
memudahkan dalam mendesain strategi integrasi teknologi ke dalam pembelajaran,
perlu menjawab pertanyaan strategi dan Kegiatan belajar yang bagaimana yang
mungkin bisa berjalan dengan baik? Dalam menjawab pertanyaan ini perlu dikaji
berbagai pendekatan dalam pem- belajaran, pendekatan yang digunakan dalam
implementasi kurikulum, pengelompokkan, dan sekuensi. Hal ini akan mengarahkan
pada bentuk aktivitas yang digunakan seperti metode langsung, konstruktivis,
atau penggabungan dari kedua metode itu. Mungkin juga apakah dalam melaksanakan
kegiatan tersebut dilakukan secara individu, berpasangpasangan, kelompok kecil,
kelompok besar, atau seluruh kelas. Lebih
lanjut, apakah perlu dipersiapkan strategi dan model penilaian
tersendiri untuk menangani pemelajar minoritas dalam suku, atau berkebutuhanm
khusus. Hal-hal seperti ini perlu dipikirkan ketika mengintegrasikan teknologi
ke dalam pembelajaran.
Dalam
mempersiapkan lingkungan yang digunakan dalam meng- integrasi teknologi, perlu
mempertimbangkan pertanyaan berikut: adakah tempat-tempat yang memiliki kondisi
tertentu untuk menerapkan teknologi yang
diintegrasikan? Tentu saja, hal ini berkaitan langsung dengan jumlah komputer,
software, hardware, peralatan dan media atau teknologi lain yang mendukung
proses pembelajaran. Jangka waktu yang harus dipersiapkan dan disusun dalam bentuk
schedule. Di samping itu, aspek privacy dan safety yang mendukung keamanan
dalam belajar. Terkadang, unsur-unsur yang mengandung kerahasiaan dan keamanan
luput dari pengawasan. Akibatnya, kebebasan anak-anak di bawah umur sering
dengan mudah mengakses berbagai situs yang seharusnya untuk ukuran umur mereka
belum dapat mengaksesnya.
Terakhir,
dalam melakukan evaluasi dan revisi perlu memperhatikan pertanyaan apa yang
telah dilakukan dengan baik? apa yang harus diperbaiki? Pertanyaan ini dapat
dijawab dan dikaji lebih jauh dengan menganalisis problem pembelajaran yang
harus diselesaikan, jenis aktivitas yang menggambarkan berbagai strategi yang
mungkin sangat cocok untuk menyelesaikan persoalan, perbaikan kegiatan,
instrumen untuk mengum- pulkan data, hasil yang diperoleh dalam menggunakan
teknologi, cara alternatif yang lebih baik, sesuatu yang harus diperbaiki untuk
mem- peroleh hasil yang lebih baik. Semua hal ini harus dikaji lebih mendalam
untuk memberikan gambaran yang jelas tentang hasil yang diperoleh dan digunakan
melakukan revisi, perbaikan, atau menggantinya dengan berbagai alternatif
strategi lainnya.
Hampir
sama dengan kelima fase ini, model integrasi yang digambarkan melalui akronim
ASSURE menawarkan enam langkah; (1) menganalisis pebelajar, (2) menyatakan
tujuan (umum dan khusus), (3) menyeleksi metode, media, dan materi, (4)
memanfaatkan media dan materi, (5) meminta partisipasi pembelajar, dan (6)
mengevaluasi dan merevisi. Keenam
langkah ini pada dasarnya memiliki strategi yang sama dengan lima fase yang
terdapat dalam teori difusi inovasi, namun berbeda dalam objek dan tujuan
digunakannya. Teori difusi inovasi dapat digunakan untuk melalukan integrasi, adopsi, dan
membuat yang baru. Sedangkan teori ASSURE hanya digunakan dalam mengembangkan
dan mengadopsi teknologi yang sudah tersedia.
Walaupun
kedua teori difusi inovasi dan teori ASSURE telah diperkenalkan dalam upaya
untuk melakukan integrasi teknologi ke dalam pembelajaran, namun bukan berarti
segala yang terkait dengan peng- gunaan teknologi informasi dalam pembelajaran,
dengan sendirinya dapat teratasi. Terdapat beberapa kendala fundamental yang
dapat menghambat lajunya program integrasi teknologi informasi ke dalam
pembelajaran. Kendala tersebut terkait dengan; (1) kurangnya materi
pembelajaran yang berbahasa Indonesia, (2) kurangnya kemampuan bahasa Inggris,
(3) akses Internet belum merata, (4) belum siapnya guru, dosen, dan staf
pengajar,(5) membutuhkan waktu yang panjang untuk belajar mengintegrasikan
teknologi informasi ke dalam pembelajaran, (6) kesulitan perijinan (jika
membangun sekolah atau universitas yang serba digital dan cyber).
Ketersediaan
materi pembelajaran dalam Bahasa Indonesia memang masih sangat terbatas.
Inisiatif beberapa sekolah dan perguruan tinggi
yang telah memanfaatkan dan mengintegrasikan teknologi informasi ke
dalam pembelajaran di Indonesia lebih banyak menggunakan materi dari luar
negeri. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan ada sekolah dan universitas di
Indonesia hanya menjadi agen atau menjalankan outlet bagi perguruan tinggi di
luar negeri. Masih perlu inisiatif-inisiatif untuk membuat materi pembelajaran
dalam bentuk digital yang berbahasa Indonesia untuk mengurangi ketergantungan
positif dari negara-negara lain di dunia.
Kemampuan
berbahasa Inggris bagi para adopter dan integrator belum memadai. Karena materi
dalam bahasa Indonesia belum banyak tersedia, maka harus menggunakan materi
dalam bahasa Inggris seperti halnya penggunaan buku teks berbahasa Inggris yang
saat ini dilakukan pada hampir seluruh universitas di Indonesia. Ironisnya,
keinginan untuk menggunakan buku-buku teks yang berbahasa Inggris begitu besar,
tetapi tidak disertai dengan kemampuan memahami bahasa Inggris yang mema- dai
yang pada gilirannya menyebabkan pemerolehan ilmu menjadi tidak terserap dengan
baik, hanya diperoleh sisi permukaannya saja sehingga terkesan sangat dangkal
dan parsial. Untuk itu pemahaman bahasa Inggris merupakan salah satu kebutuhan
yang harus dikuasai oleh mahasiswa.
Aksesibilitas
internet belum merata dan masih relatif mahal di beberapa tempat. Meskipun
kecenderungan akses Internet mulai menyebar dengan harga yang relatif murah,
namun pada kenyataannya masih banyak tempat di Indonesia yang belum memiliki
saluran telepon. Bahkan beberapa tempat masih belum miliki jaringan listrik
yang memadai. Sedangkan, yang sudah memiliki jaringan listrik masih dihambat
dengan kecilnya persediaan pasokan sehingga pemadaman listrik secara bergilir
pun tidak dapat dihindari. Kemampuan
Guru, dosen, atau staf pengajar untuk mengintegrasi dan memanfaatkan teknologi
informasi ke dalam pembelajaran belum me- rata. Bahkan tidak sedikit tenaga
kependidikan yang belum tersentuh oleh teknologi. Keadaan ini menyebabkan
proses penyampaian materi pembelajaran menjadi terhambat. Semoga keterbatasan
kemampuan bagi para pelaku pendidikan dapat berangsur-angsur terselesaikan.
Namun
masalah ini tidak dapat berkurang begitu saja tanpa ada usaha untuk meminimali-
sirnya. Untuk itu perlu ada upaya untuk meningkatkan kemampuan guru, dosen, atau
staf pengajar.Ketersediaan waktu bagi para guru, dosen, atau staf pengajar
harus diarahkan pada penguasaan teknologi karena proses belajar teknologi
membutuhkan waktu yang cukup memadai. Kesibukan untuk menangani beberapa mata
pelajaran/mata kuliah dan kesibukan membantu perguruan tinggi dan sekolah lain
atau mungkin berbagai kesibukan lain di luar tugas utama seharusnya dapat
diminimalisir guna dapat mengagendakan dan membuat time schedule untuk
memperdalam pengetahuan dalam menggunakan teknologi dan bahkan cara
mengintegrasikan ke dalam pembelajaran.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Dalam pemanfaatan Teknologi, informasi dan komunikasi di sekolah dasar harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.
Dalam pemanfaatan Teknologi, informasi dan komunikasi di sekolah dasar harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.
Namun, tidak bisa
dipungkiri pemanfaatan TIK di dalam dunia pendidikan memiliki beberapa kendala,
di antaranya: kurangnya pengadaan infrastruktur TIK, Ketidaksiapaan sumber daya
manusia untuk memanfaatkan TIK dalam
proses pembelajaran, Hambatan – hambatan penggunaan TIK dalam proses belajar
mengajar.Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan langkah-langkah
penyelesaian yang sekaligus berfungsi sebagai prasyarat keberhasilan penerapan
TIK dalam dunia pendidikan / pembelajaran.Dalam mengintegrasikan teknologi ke
dalam pembelajaran, para integrator atau adopter perlu malakukan lima fase
dalam integrasi, yakni (1) menentukan keuntungan relatif, (2) menentukan tujuan
dan penilaian, (3) mendesain strategi integrasi, (4) mempersiapkan lingkungan
pembelajaran, (5) mengevaluasi dan merevisi strategi integrasi.
3.2
Saran
Dari keseluruhan hasil pembahasan dan simpulan,
makalah yang kami buat belum sempurna sesuai yang diharapkan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak atau pembaca demi perbaikan di
masamendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Frans, R. (2017). Penerapan TIK di Sekolah Dasar dan Kendalanya.[Online]. Tersedia:http://reyfranss.blogspot.com/2017/07/penerapan-t-i-k-di-sekolah-dasar-dan.html
[24 Oktober 2018].
Isjoni. 2005. Mendayagunakan Teknologi Pengajaran. Pekanbaru: Penerbit Unri
Press.
Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.
Jakarta: Penerbit Prenada Media.
Purwanto., dkk. (2005). Jejak
Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di
Indonesia. Jakarta:
Pustekkom-Depdiknas.
Suparman, M., Atwi & Zuhairi., dan Aminudin.
2004. Pendidikan Jarak Jauh Teori dan
Praktek. Jakarta: Pusat Penerbitan universitas Terbuka.
Wiguna, M. (2012). Aplikasi Teknologi Pendidikan Pada Usia Anak Sekolah Dasar.[Online].
Tersedia:http://meilyaniw.blogspot.com/2012/09/aplikasi-teknologi-pendidikan-pada-usia_26.html
[24 Oktober 2018].
Yaumi, M. (2011). Integrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran.
Jurnal LENTERA PENDIDIKAN, VOL. 14, NO. 1, JUNI 2011: 88-102.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar