Selasa, 20 November 2018

CERPEN


Cerita pendek merupakan sebuah cerita pendek yang berisi narasi tunggal.



DIBALIK KEYAKINAN

Aku adalah seorang anak dari keluarga yang bisa dibilang sederhana. Aku tinggal di salah satu tempat yang jauh dari keramaian. Setiap hari waktuku, ku habiskan untuk membantu orangtuaku di kebun karena aku sudah putus sekolah, dikarenakan aku tidak punya biaya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA. Kadang aku suka berpikir dan merenung untuk sekolah lagi dan bermain bersama teman-temanku, namun hal itu hanya angan semata karena hidupku tidak seberuntung mereka. Tapi aku tetap tegar walaupun nasibku begini. Aku yakin suatu saat aku bisa menjadi orang sukses dan bisa sekolah lagi serta dapat membahagiakan orang - orang yang ada disekitarku, terutama orang tuaku. Asal aku mau berusaha sekuat tenaga dan terus berdoa sebaik-baiknya kepada Allah SWT  aku yakin, aku akan dapat mewujudkan semua cita - citaku.  Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat dari tuhan.

Pada suatu hari aku pergi ke kota untuk bekerja di sebuah warung makan. Hari pertama aku berkerja di sebuah warung makan, di dalam hati aku bertekad untuk berkerja keras supaya bisa membantu perekonomian keluargaku, setelah aku berkerja ternyata aku merasakan bahwa mencari uang yang halal itu sangat sulit tidak semudah kita menghambur hamburkannya untuk sekedar barang yang tidak penting.
Letih, mungkin orangtuaku lebih…
Cape, mungkin orangtuaku lebih..

Setelah beberapa bulan aku berkerja, akhirnya aku sudah bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk hari minggu nanti aku bawa untuk pulang ke kampung halaman. Rasa rinduku terhadap orangtuaku yang jauh di sana sudah mulai terasa aku mencoba menguatkan diri sendiri. Hari minggu yang aku tunggu pun telah tiba rasa rindu yang memuncak seakan bisa kulepaskan di hari ini, cairan bening itu menetes tak henti aku terus memeluk orang yang paling berjasa dalam hidupku ini seorang wanita yang sangat aku hargai dan cintai wanita itu, adalah Ibuku.

Aku memeluk ibuku begitu erat rasanya rindu ini begitu besar. Setelah melepas rasa rindu itu ibu ayahku dan aku sedang berkumpul di ruang tengah kami sedang ngobrol santai dan menceritakan pengalaman aku pertama kali berkerja. Tapi di tengah obrolan santai tersebut tiba tiba ayahku berkata..
“Tahun ini kamu lanjutkan sekolah lagi ya nak” tiba tiba ayahku berkata seperti itu dan entah apa yang aku rasakan intinya aku merasakan kebahagian yang luar bisa.

Pada saat itu aku benar - benar bahagia sampai aku bersujud syukur kepada allah dan inilah keajaiban yang Allah janjikan untuk aku dan aku merasa bersyukur atas apa yang telah aku lalu karena itu sebagai pelajaran yang berharga yang bisa aku ambil hikmahnya di suatu saat nanti. Sekarang aku sudah bersekolah kembali di sebuah sekolah SMA, aku merasa bahagia karena aku bisa melanjutkan impian dan cita citaku yang sempat terhenti dan aku akan mewujudkanya dengan cara bersekolah. Sekarang aku akan berjuang untuk orang yang memperjuangkanku. orangtuaku berjuang untuk bisa menyekolahkanku dan aku berjuang untuk bisa membanggakan kedua orangtuaku dengan semangat untuk sekolah dan belajar.


Aku berharap semua yang aku cita-citakan akan seperti apa yang aku inginkan, Walaupun harapan sering tidak sesuai dengan keinginanku. Mungkin hatiku akan merasa sakit, tapi aku mencoba menyakinkan hati kalau semua adalah garis hitam di dalam hidupku. Semua manusia, memiliki harapannya sendiri. Entah itu tentang Cinta, Harta, Keluarga, Sahabat, Orang Tua, maupun tentang Kehidupannya. Tuhan... Dia yang ciptakan kita, dan Dialah pemberi Harapan besar pada kita. Jika Tuhan berkehendak, maka terwujudlah sebuah harapan. Namun jika tidak, Tuhanlah yg berhak hancurkan sebuah harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seni Budaya I

Tugas Seni Budaya Apresiasi Wayang Ajen di IPP Sumedang